<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3062616173817987135</id><updated>2011-04-21T12:04:17.339-07:00</updated><category term='Perjalanan'/><title type='text'>Bayu Sumilir</title><subtitle type='html'>...yang lirih dan lemah, mengantar kabar baik bagi hidup yang tengah letih...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bayusumilir.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bayusumilir.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bayu Primasanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08914967732174891592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JTihe2ZmH_w/SM8JFy5GrlI/AAAAAAAAAAw/FZGINIeOj-s/S220/IMG1188A.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3062616173817987135.post-650297440719749023</id><published>2008-09-18T22:25:00.001-07:00</published><updated>2008-09-18T23:31:42.643-07:00</updated><title type='text'>Menembus Batas</title><content type='html'>Kemarin malam, aku dan sahabatku berdiskusi mengenai bagiamana kami bertumbuh dan apa buahnya selama beberapa tahun ini (aku tinggal di Jogja dan dia di Bandung). Aku takjub sekali ketika dia bilang pertumbuhan imannya lebih cepat dibandingkan dengan temannya (Selama ini aku bingung, bagaimana cara mengukur pertumbuhan iman seseorang itu? Hehehe...mungkin aku ini yang malas belajar). Lalu kami berdiskusi tentang masalah teman hidup (yang kemudian kami sebut TH). Menurutku, ketika Tuhan mengenalkan kita pada TH kita, belum tentu mereka telah dalam posisi sepadan dengan kita (mungkin, dia masih dalam kegelapan, belum bertumbuh, atau bahkan orang yang tak kenal Tuhannya). Nah, pada saat dipertemukan dengan kitalah proses penempaan itu dimulai, hingga akhirnya menjadi teman yang sepadan dan dapat diberkati sebagai teman hidup. Dalam perspektifku ini, teman hidup mungkin lebih tepat disebut "calon teman hidup" (belum diwisuda dan menerima lencana, karena belum sepadan!). Kalau menurut sahabatku, Tuhan akan mempertemukan kita dengan TH kita, jika sudah sama-sama dalam keadaan sepadan dan kita hanya bisa menolong dia (saat dia belum sepadan) dengan doa, atau kita tolong secara langsung tapi dengan tidak menganggap dia sebagai calon pasangan hidup. Anehnya, berbeda dengan diskusi-diskusi idealisku yang lain, polemik yang kami munculkan berdua itu terjadi dengan sangat santai dan toleran (padahal kami sama-sama idealis). Sahabatku bilang, yah...karena kita tumbuh ditempat yang berbeda, jadi perspektif kita berbeda dalam memandang sesuatu. Aku setuju, lalu mencoba menghubungkannya dengan sebuah analogi mengenai banyaknya aliran dalam gereja kita. Ada aliran A, B, C yang terkadang berbenturan paham satu dengan yang lainnya (ingat kan, bentrok antara sebuah gereja dengan gereja lainnya beberapa waktu lalu?). Kenapa bisa terjadi? Bukankah kita satu iman dan satu Bapa dalam keluarga kita?&lt;br /&gt;Owh, ternyata tidak Saudara-Saurara. Setiap gereja, aliran, lembaga pelayanan, memiliki visi strategisnya masing-masing dan hal itu melembaga dengan budaya yang dibangun oleh institusi masing-masing. Jadi, budaya, adat istiadat, tata cara, dogma, dan konvensi lainnyalah yang terkadang menjadi tembok yang paling sulit diruntuhkan. Akibatnya, setiap institusi, bahkan sampai atom yang terkecil sekalipun, yakni pribadi, mulai menggunakan kacamata institusi untuk mendemonstrasikan kasih kepada dunia, dan tak jarang justru saling berbenturan.&lt;br /&gt;Berkaca dari sahabatku kemarin, dan dengan menganalisis sebab mengapa kami akhirnya tidak berdebat, saya simpulkan bahwa memang benar, melayani pun dapat dilakukan dengan banyak cara, pada berbagai golongan manusia, tempat, dan abad sesuai dengan profil pelayanan kita masing-masing. Benar juga bahwa setiap institusi pelayanan, atau setiap aliran, memegang iman dan dogmanya dengan caranya masing-masing sehingga jika menemui sesuatu yang berpotensi untuk mengundang debat, segera kita akan kembali ke undang-undang institusi kita sendiri dan menggunakannya sebagai rebuttal pada aliran atau institusi yang berbeda pandang dengan kita. Sayang sekali, sayang sekali!&lt;br /&gt;Padahal kalau kita mereview kembali kisah Yesus, Dia berjalan tanpa mengenal batas, Dia menembus batas-batas budaya, adat istiadat, bahkan konstitusi yang paling tinggi sekali pun pada waktu itu: Hukum Taurat (Sekalipun ada tertulis mata ganti mata, gigi ganti gigi, tetapi Aku berkata kepadamu.....).&lt;br /&gt;Kemampuan menembus batas dalam berdialog inilah yang mungkin saat ini perlu kita pahami dan pelajari bersama. Sehingga ketika kita berbagi iman kita kepada saudara kita dan menemukan ketidakcocokan, kita kembali ke konvensi tertinggi kita: kisah hidup Yesus dan pertolongan roh kudus. Dengan demikian, proses mendemonstrasikan kasih itu sungguh dapat dilakukan dengan murni, tulus, dan sesuai dengan kehendak Bapa, bukan kepentingan sebuah institusi atau aliran semata.&lt;br /&gt;Terima kasih sahabatku, kita belajar memahami hal menembus batas ini walau itu tidak mudah. Sungguh, terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3062616173817987135-650297440719749023?l=bayusumilir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bayusumilir.blogspot.com/feeds/650297440719749023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3062616173817987135&amp;postID=650297440719749023&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default/650297440719749023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default/650297440719749023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bayusumilir.blogspot.com/2008/09/menembus-batas.html' title='Menembus Batas'/><author><name>Bayu Primasanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08914967732174891592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JTihe2ZmH_w/SM8JFy5GrlI/AAAAAAAAAAw/FZGINIeOj-s/S220/IMG1188A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3062616173817987135.post-703089764401725513</id><published>2008-09-18T22:25:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T22:39:15.902-07:00</updated><title type='text'>Bergaul dengan Kasih (Renungan Sanata Dharma 11 Sept'08</title><content type='html'>Bergaul dengan Kasih  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita renungkan, biasanya kalau kita melihat pada nisan orang yang sudah meninggal, di situ akan tertulis tahun hidup – tahun meninggal. Otomatis, perhatian kita tertuju pada seberapa lama dia hidup. Kita melupakan satu tanda yang tercetak di antara kedua tahun itu, yakni tanda strip (-). Tanda strip inilah yang sebenarnya menentukan akan berada di kehidupan mana kita nantinya (mati kekal atau hidup kekal). Nah, salah satu hal yang kita kerjakan di dunia ini untuk mengisi tanda strip itu adalah bergaul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan kali ini diberi judul “Bergaul dengan Kasih”. Kalau diuraikan, “bergaul” untuk menunjukkan “pekerjaan untuk mencapai tujuan tertentu”, “dengan kasih” menunjukkan cara untuk melakukan pekerjaan tersebut. Melakukan pekerjaan bergaul sih semua orang bisa, tapi bagaimana cara bergaul yang Allah mau (Mat 22: 37-40)? Cara bergaul yang tidak mudah membuat kita tumbang ketika badai hidup datang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan mencoba memahami bagaimana bergaul dengan kasih melalui simulasi berikut ini. &lt;br /&gt;Peserta akan dibagi dalam dua kelompok  bangsa, yakni bangsa Alfa dan Victoria. Kedua bangsa ini sangat bertolak belakang dalam berbagai hal. Berikut ciri-ciri keduanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALFA VICTORIA&lt;br /&gt;Primitif Modern&lt;br /&gt;Lemah lembut Keras, bersemangat, ceria selalu, tapi suka marah-marah&lt;br /&gt;Kalau berbicara ataupun bertindak sangat pelan sekali Kalau berbicara atau bertindak sangat keras, langtang, cepat dan tangkas&lt;br /&gt;Jika bertemu orang pasti salaman dan mengelus bahunya Jika bertemu orang baru mengajak TOAST dan menepuk keras baunya&lt;br /&gt;Selalu menawarkan makanan pada orang baru Selalu mengajak menari orang lain&lt;br /&gt;Agak sensitif dengan suara yang keras Males kalau melihat kelambatan&lt;br /&gt;Berencana membuat menara sesuai karakter mereka Berenana membuat menara sesuai karakternya&lt;br /&gt;Alat transportasi: kaki, sampan Alat transportasi: mobil, pesawat&lt;br /&gt;Makanan: langsung dari alam Makanan: fast food&lt;br /&gt;Pekerjaan: berburu dan bercocok tanam Pekerjaan: profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kelompok bangsa dipisah di dua tempat yang berbeda. Salah seorang dari satu ditukarkan secara bergantian dengan kelompok lainnya. Ketika satu orang berada dalam satu kelompok yang lain, dia diharapkan bisa beradaptasi tetapi tetap mempertahankan adat budayanya supaya tidak terpengaruh oleh kelompok yang lain. Demikian, semua anggota kelompok bangsa ditukarkan secara bergantian sampai seluruh peserta merasakan berada di bangsa lainnya. Setelah semua mendapat giliran, simulasi pun selesai dan peserta kembali ke tempat duduk masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, apa yang bisa kita pelajari dari simulasi tadi? (Sebutkan beberapa hal yang kamu dapat!). Apa yang anda rasakan ketika Anda dengan segala adat istiadat dan karakter yang Anda miliki harus beradaptasi dengan bangsa lain yang menawarkan sesuatu yang berbeda? Apa yang Anda akan perbuat ketika Anda harus tinggal dan bergaul dengan mereka? Mudahkah?&lt;br /&gt;Ya, jawabannya bisa bervariasi. Pertama, mungkin kita merasakan sangat sulit sekali bergaul dengan lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kita. Walhasil, kita memilih untuk pergi dan meninggalkan lingkungan tersebut. Yang kedua, kita merasa sulit untuk beradaptasi, tapi karena beberapa factor (keterpaksaan, kewajiban, gengsi, dll) kita terpaksa merubah diri menjadi seperti mereka secara pelan-pelan. Ketiga, mudah, kalau kita termasuk tipe orang yang mudah berubah sesuai dengan keadaan lingkungan kita. Keempat, mudah, karena kita tidak memandang perbedaan itu sebagai penghambat, justru kita menguatkan karakter kita dan berupaya memberi dampak kepada lingkungan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti simulasi di atas, demikian jugalah kita. Mat 10: 16 a mengatakan “Lihat, Aku mengutus kamu, seperti domba ke tengah-tengah serigala”. (Mat 5: 16). Wah, dari ayat ini saja kita sudah bisa melihat kalau anak terang itu berbeda dengan dunia. Anak terang, yang memiliki prinsip hidup seperti Kristus, tidak jarang dipandang aneh oleh dunia. Mau bukti kuat, ingat-ingat saja cerita Yesus yang waktu itu dibenci orang farisi karena kelakuannya yang aneh. Tapi bagaimana pun juga, sabda tadi tetap berlaku. Kita seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Mau tidak mau, ya harus mau. Tapi bukan asal mau, melainkan melakukan yang terbaik dalam pergaulan kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar bergaul dengan benar dari Roma 12: 9-21. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kasih itu jangan pura-pura  jujur dan terbuka&lt;br /&gt;• Menjadi sahabat yang baik  suka duka bersama, mengutamakan orang lain, selalu berusaha memberi tumpangan, selalu membawa perdamaian&lt;br /&gt;• Rajin dalam melayani, bukan dilayani&lt;br /&gt;• Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa. 12&lt;br /&gt;• Jangan menganggap dirimu pandai  pikirkanlah hal-hal yang sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata banyak sekali hal yang harus kita perhatikan ketika ingin belajar bergaul dengan kasih. Tapi yang lebih besar di antara itu semua adalah: Yoh 15: 13. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kalau kita ingin bergaul dengan kasih, sudah siapkah kita memberikan nyawa kita untuk sahabat-sahabat kita? Hehehe….serem ya? Jika suatu ketika kita merasa kesulitan dalam pergaulan kita, kecewa, marah, teraniaya, terancam, dikucilkan, dan semua kebaikan kita justru mendatangkan sakit hati sendiri, ingatlah bahwa Yesus juga mengalami semua itu. Yang paling penting, kita lakukan yang terbaik itu dengan dasar Kolose 3: 23. “Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3062616173817987135-703089764401725513?l=bayusumilir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bayusumilir.blogspot.com/feeds/703089764401725513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3062616173817987135&amp;postID=703089764401725513&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default/703089764401725513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default/703089764401725513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bayusumilir.blogspot.com/2008/09/bergaul-dengan-kasih-renungan-sanata.html' title='Bergaul dengan Kasih (Renungan Sanata Dharma 11 Sept&apos;08'/><author><name>Bayu Primasanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08914967732174891592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JTihe2ZmH_w/SM8JFy5GrlI/AAAAAAAAAAw/FZGINIeOj-s/S220/IMG1188A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3062616173817987135.post-2974022007594365155</id><published>2008-09-17T20:24:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T18:55:50.982-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><title type='text'>Bahagia dan Cukup</title><content type='html'>Sebuah keprihatian bagi teman-teman dan keluarga ketika mereka tahu komitmenku dan dia sepuluh tahun yang lalu, 1998. Cibiran dan sindiran akrab sekali dengan hubungan kami saat itu. Wajar, sepuluh tahun yang lalu, dia orang yang tak tahu aturan, tak kenal Tuhan, hidup dengan jiwa jalanan, dan parahnya, tak bertujuan. Sebagai manusia biasa, terkadang kuping ini panas mendengar cemoohan dan inginnya melarikan diri walau akhirnya justru jalan di tempat.&lt;br /&gt;Aku harus berusaha menafsirkan sikapnya dengan perspektif yang lain, bukan dengan kacamata yang digunakan orang-orang untuk menilai dan menghakimi. Sejujurnya, itu hal yang sangat sulit sekali. Perih...Pedih hatinya.&lt;br /&gt;Pernah, satu dua kali kami tidak kuat, dan kami membatalkan komitmen itu. Hahaha...tepatnya pembatalan secara sepihak (yang tentunya juga hanya menguntungkan satu pihak saja. menguntungkan? justru belakangan aku renungkan itu sebagai kerugian fatal).&lt;br /&gt;Suatu saat, entah itu aku bermimpi atau memberontak pada realita, ada seseorang yang mirip sekali dengannya menghampiriku. Pakaiannya lusuh, badannya kurus kering, sepertinya hatinya terluka parah, dan ada yang tidak beres pada pikirannya (kutebak, karena pengaruh obat-obatan psikotropika), dia membawa sebotoh minuman keras, bau rokok pula. Dia datang dan semakin mendekat padaku, lalu berbisik lemah, "Sahabat, seandainya sahabatmu dipenjara karena sesuatu yang tidak dia mengerti, apakah kamu akan meninggalkannya? Apakah kamu akan mencacinya seperti yang orang lain lakukan? Apakah kamu tidak ingin membantunya menghadapi pengadilan itu? Apakah kamu akan biarkan dia mati penasaran dengan tetap tidak mengenal siapa Tuhannya?"&lt;br /&gt;Stop! Semua itu melukaiku. Lebih dari semua yang aku miliki, aku sangat mencintainya, aku sangat mengasihi sahabatku itu. Dan betul katamu, aku tidak akan membiarkan dia menghadapi kekejian ini seorang diri.&lt;br /&gt;Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali pada komitmen kami....Hehehe...&lt;br /&gt;Dia, Dia yang ingin kami saling menjadi penolong, Dia lah yang mempertemukan kami kembali.&lt;br /&gt;2001...&lt;br /&gt;Terjalin kembali ikatan yang pernah putus. Tak lagi dengan tampar, tapi rotan. Rotan yang kokoh dan baik kualitasnya.&lt;br /&gt;Wajahnya berbeda, auranya merepresentasikan janji atas masa depan yang penuh harapan. Entah apa yang terjadi padanya. Dia berubah...&lt;br /&gt;Dalam episode ke dua ini, aku yang perlu ditolong. Ambisi yang meluap dan kadang tak terkendali membawaku pada kemarahan ketika bertemu dengan aral. Diriku kini yang dipenjara oleh keserakahan dan nafsu atas penghormatan dan kekuasaan. Dan di antara kesesakan dan jeritan di atas ambisi itu, dia dengan setia menanti dan selalu tersenyum mendukung (dia, dia yang dulu orang seperti apa sekarang menjadi seperti apa).&lt;br /&gt;Di antara kelelahan itulah aku melihat melalui matanya (walaupun dia sama sekali tak pernah berkata-kata dan tak pernah menasihati) bahwa jalan yang kutempuh ini salah. Jalan ini hanya berujung pada kematian kepribadian.&lt;br /&gt;Aku mengerti sekarang. Paham benar mengapa dulu, walaupun sakit, aku tetap harus bersama dia. Karena kami sedang diproses, ditempa dengan keras untuk melihat wujud sejati masing-masing pribadi.&lt;br /&gt;Sampai di sini, ketika sedikit selumbar itu tersingkap dan aku bisa melihat karya yang besar melalui perubahan hidup anak manusia; hingga muncul seorang partner hidup yang takut akan Tuhan, aku semakin yakin, aku sudah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bahagia&lt;/span&gt; dan itu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;cukup&lt;/span&gt;. Tidak butuh apa-apa lagi selain kekuatan untuk mengalirkan kebahagiaan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3062616173817987135-2974022007594365155?l=bayusumilir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bayusumilir.blogspot.com/feeds/2974022007594365155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3062616173817987135&amp;postID=2974022007594365155&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default/2974022007594365155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default/2974022007594365155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bayusumilir.blogspot.com/2008/09/bahagia-dan-cukup.html' title='Bahagia dan Cukup'/><author><name>Bayu Primasanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08914967732174891592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JTihe2ZmH_w/SM8JFy5GrlI/AAAAAAAAAAw/FZGINIeOj-s/S220/IMG1188A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3062616173817987135.post-1541056294843432423</id><published>2008-09-15T01:06:00.000-07:00</published><updated>2008-09-16T00:25:42.825-07:00</updated><title type='text'>Sumonggo</title><content type='html'>Sumonggo....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumonggo, atau dalam bahasa indonesianya "silakan", merupakan kata yang menempati strata tinggi dalam bahasa jawa yang bernama "Krama Inggil". Kata-kata yang diambil dari strata ini khusus digunakan untuk berbahasa dengan orang-orang yang statusnya lebih tinggi, baik dari segi usia, sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Dalam tulisan perdana ini, saya memilih judul "Sumonggo" untuk mempersilakan sahabat sekalian mampir ke blog ini sembari bersama merenungkan makna kehidupan. Dari saya: Selamat datang dan selamat berbagi kabar baik di lembar-lembar berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumonggo....!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3062616173817987135-1541056294843432423?l=bayusumilir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bayusumilir.blogspot.com/feeds/1541056294843432423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3062616173817987135&amp;postID=1541056294843432423&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default/1541056294843432423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3062616173817987135/posts/default/1541056294843432423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bayusumilir.blogspot.com/2008/09/sumonggo.html' title='Sumonggo'/><author><name>Bayu Primasanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08914967732174891592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_JTihe2ZmH_w/SM8JFy5GrlI/AAAAAAAAAAw/FZGINIeOj-s/S220/IMG1188A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
